Jumat, 28 Februari 2014

Bintang

Malam itu, ketika malam mulai datang ditemani dinginnya bayu yang menyapa, termenunglah sesosok gadis bernama BINTANG. Dilihatnya seorang foto lelaki tampan yang terlihat indah di sebuah bingkai berwarna hitam kemerahan. Itu adalah foto Rafael, kekasih Bintang yang meninggal 1 tahun lalu karena kecelakaan maut yang menimpanya. Terlintas sedikit bayangan masa lalu indah Bintang bersama Rafael saat Bintang merayakan sweet seventeennya sebelum Rafael pergi meninggalkan Bintang untuk selamanya.
12 Mei 2012
Bintang sudah menunggu kekasihnya di depan teras rumahnya, karena hari itu adalah hari spesial untuknya dan kekasihnya, Rafael. Malam itu adalah malam dimana mereka akan merayakan anniversary mereka yang ternyata kisah cinta mereka sudah berjalan 1 tahun. Selain itu, malam itu juga adalah malam dimana Bintang mengginjak umur 17 tahun atau biasanya di kenal sweet seventeen. Jadi, mereka berencana merayakan momen spesial itu di sebuah taman kota, yang merupakan tempat dimana Rafael dan Bintang memulai kisah mereka.
Setelah beberapa menit berlalu, sampailah Rafael di rumah Bintang. Setelah meminta ijin kepada kedua orangtua Bintang, akhirnya Rafael pergi bersama Bintang. Dengan perlahan Rafael melajukan motornya dan meninggalkan kediaman Bintang. Bintang memeluk erat tubuh Rafael di sepanjang perjalanan menuju taman, dan tak jarang juga Rafael memberikan senyuman manisnya kepada Bintang, yang saat itu terlihat cantik natural tanpa sedikit pun make up di wajahnya. Itulah yang membuat Bintang selalu istimewa di mata Rafael, karena ia tak pernah memoles wajahnya dengan berbagai make up. Rafael pun sedikit menambah kecepatan motornya karena ia takut jika membawa Bintang terlalu lama di luar, apalagi angin malam tidak baik untuk kesehatan.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di taman, setelah memarkirkan motornya, ia menggandeng tangan Bintang seraya berkata, “sayang, duduk di dekat pelukis itu yuk? Aku udah pesen biar orang itu ngelukis kamu sama aku di malam spesial ini”. Akhirnya, Bintang menganggukkan kepala seraya tersenyum tanda ia mau dengan permintaan Rafael.
Mereka pun berjalan kearah pelukis muda yang berada tepat di tengah taman tersebut. Setelah pelukis sedikit memberikan penjelasan pada Rafael, akhirnya Rafael dan Bintang pun duduk di kursi yang sudah disediakan oleh si pelukis. Mereka duduk saling berhadapan, dan tangan Rafael mengenggam tangan Bintang. Akhirnya, sang pelukis pun mulai menyiapkan alat, dan mulai melukis Rafael dan Bintang. Sedangkan, Rafael dan Bintang saling menatap seraya saling memberikan senyuman.
Waktu pun terus berjalan, hingga akhirnya setengah jam pun berlalu. Pelukis telah selesai membuat lukisan sepasang kekasih tersebut. Akhirnya, Rafael memberikan uang tanda terima kasihnya seraya berjalan menuju bangku lain seraya membawa lukisan tadi. Lukisan tersebut bisa terbilang bagus dan rapi, karena menurut orang sekitar, pelukis tadi memang sudah ahli dalam seni. Rafael dan Bintang pun tersenyum puas melihat lukisan wajah mereka yang terukir indah dalam sebuah bingkai lukisan. Rafael dan Bintang duduk di sebuah bangku yang tak jauh dari pelukis tadi. Setelah meletakkan lukisan tadi di samping bangku, Rafael dan Bintang pun mulai mencairkan suasana.
“sayang, kamu cantik malam ini.” ucap Rafael.
“makasih sayang. Kamu juga cakep malam ini.” Jawab Bintang tersipu malu.
“oh iya, aku ada sesuatu buat kamu. Di buka ya, Aku harap kamu suka sama hadiah yang aku kasih sayang.” Lanjut Rafael seraya memberikan sebuah kotak kecil yang terbungkus rapi dengan kertas kado berwarna biru.
Dengan perlahan Bintang membuka kotak tersebut, dan mengambil hadiah dari Rafael. Betapa terkejutnya Bintang, karena ternyata Rafael memberikan sebuah cincin berlian untuk Bintang. Kemudian Rafael memasangkan cincin tersebut di jari manis Bintang. Bintang pun tersenyum manis tanda terimakasihnya pada Rafael.
“sayang, happy birthday ya? Semoga Tuhan memberi kamu umur yang panjang, menambah kedewasaan kamu, mempermudah semua urusan kamu, dan pastinya tambah disayang sama orang-orang terdekat kamu.” Bisik Rafael seraya mengecup kening Bintang.
“makasih ya sayang. Gak nyangka kamu bisa seromantis ini. Aku sayang sama kamu.” Ucap Bintang seraya memeluk Rafael.
“Bintang, sekarang anniversary kita ya? Selamat ya sayang kamu bisa jalani semua meski terkadang banyak cobaan buat kita merasa terganggu. Aku harap rasa sayang kamu gak akan berubah sampai saatnya kelak.”
“iya sayang. Aku pasti akan berusaha sebisa aku buat pertahanin semua yang udah kita perjuangkan. Jaga aku ya sayang”
“iya Bintang. Aku akan jaga kamu meski sampai tanganku tak bisa lagi menggenggam tangan kamu. Aku janji akan ada buat kamu.”
“kamu kenapa bilang gitu? Kamu gak ninggalin aku kan?”
“enggak sayang. Aku gak papa. Percaya sama aku.”
Rafael memeluk erat tubuh mungil Bintang, meski sebenarnya perasaannya terasa ada yang mengganjal. Namun, Rafael berusaha tenang dan membuat Bintang tak terganggu.
Setelah lama berdiam di taman, akhirnya mereka mulai beranjak pergi karena malam yang semakin larut. Rafael juga merasa tidak enak dengan kedua orangtua Bintang jika ia terlalu lama membawa Bintang keluar malam. Akhirnya Rafael pun mengecup kembali dahi Bintang seraya berkata “aku berjanji akan selalu berada di samping kamu, meski aku tak bisa menyentuh dirimu sayang.” Mereka pun mulai meninggalkan taman dan tak lupa membawa lukisan tadi.
Tak ada percakapan di antara mereka sepanjang jalan. Bintang sedang hanyut dalam kebahagiaannya kerena banyak hadiah terindah untuk malam yang terindah untuknya. Sedangkan Rafael masih merasa ada sesuatu yang akan terjadi, namun ia tak tau apa yang sebenarnya sedang melanda pikirannya. Hingga akhirnya, mereka pun sampai di rumah Bintang.
Setelah menyapa kedua orang tua Bintang, Rafael pun berpamitan dan meninggalkan lukisan yang tadi ia pesan di taman sambil berkata “Bintang, rawat lukisan ini seperti kamu jaga aku selama ini. Aku sayang kamu.” Akhirnya, Rafael pun pergi meninggalkan rumah Bintang. Malam pun menutup hari yang membahagiakan untuk Bintang, namun tidak untuk Rafael.
13 mei 2012
Pagi sudah datang menyambut, Bintang sudah bersiap untuk berangkat kuliah. Ia sudah bersiap untuk melajukan motornya. Ia sengaja tak memberitau Rafael jika ia sudah bersiap, karena ia ingin memberi kejutan untuk Rafael, dengan cara menjemput Rafael lebih awal. Setelah berpamitan kepada orangtuanya, Bintang pun mulai pergi meninggalkan rumahnya.
Setelah 10 menit berlalu, sampailah Bintang di rumah Rafael. Namun, Bintang merasa bingung karena rumah Rafael dipenuhi oleh banyak orang. Ia pun bergegas masuk ke dalam dan menemui mama Rafael.
“tante, siapa yang meninggal? Kok ada bendera putih? Kenapa tante nangis?” tanya Bintang polos.
“sayang, yang tabah ya, Tante yakin, kamu kuat nak.” Jawab mama Rafael seraya menangis sambil memeluk Bintang.
“tante? Siapa yang me..ninggal?” suara Bintang mulai terputus-putus.
“Rafael, sayang. Dia tak bisa mengendalikan laju motor saat ada kendaraan lain di depannya, hingga akhirnya ia memilih menabrakkan dirinya ke pembatas jalan. Rafael sempat masuk UGD dan ia berpesan agar tante tidak memberitaukan kamu akan hal ini. Rafael tak ingin kamu sedih nak. Ia juga berpesan agar kamu menjaga lukisan dan cincin dari Rafael. Dia meminta maaf karrna tidak bisa ada buat kamu lagi. Tapi ia berjanji selama kamu memakai cincin itu, selama itulah Rafael ada untuk kamu. Kuatkan hati kamu sayang.” Tangis mama Rafael pun terpecah.
Ia berlari menuju tempat dimana Rafael dibaringkan. Ia tak tahan membendung airmatanya saat melihat tubuh Rafael sudah terbujur kaku di tengah para tamu yang sedang membacakan surah yasin. Bintang pun berlari menuju tempat Rafael, dan memeluk tubuh Rafael yang sudah tak bernyawa lagi. Ia menangis sejadi-jadi seraya berkata “sayang, kenapa kamu pergi secepat ini? Kenapa kamu tinggalin aku saat aku mulai ingin menjalani semua bersama kamu? Rafael kenapaaa? Aku belajar semua dari kamu. Kamu yang membawa perubahan untuk hidup aku. Rafael, kenapa kamu pergi saat aku percaya kamu akan jagain aku? Rafael, aku… aku cinta kamu.” Bintang pun terus menangis di samping Rafael, sampai akhirnya mama Rafael menenangkan hati Bintang. Semua makhluk yang hidup pasti akan mati akhirnya, meski tak ada yang tau kapan waktunya. Akhirnya, Bintang mencoba ikhlas meski sebenarnya ia belum bisa menerima kenyataan jika ia harus kehilangan Rafael. Hingga saat pemakaman Rafael pun tiba. Bintang menaburkan bunga di atas tempat peristirahatan terakhir Rafael, seraya meneteskan airmata di pipi mungilnya.
Sekilas cerita itu lah yang tiba-tiba teringat dalam benaknya, karena malam ini seharusnya ia merayakan hari ulang tahun Rafael yang sebenarnya hanya selisih dua hari dengan Bintang. Malam ini 14 Mei 2013, Bintang hanya sendiri di kamarnya seraya memandang lukisan satu tahun lalu yang masih terpajang indah di kamarnya. Ia juga mengecup cincin yang diberikan Rfael satu tahun lalu, yang sampai saat ini masih melingkar di jari manisnya. Ia pun berkata “happy birthday sayang. Tak terasa sudah satu tahun kita gak pernah ketemu. Makasih sayang berkat kamu sekarang aku bisa hidup lebih dewasa dan mandiri. Aku akan membuat mu bangga dengan hasil jerih payahku selama ini. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik sayang. I love You Rafael.” Bintang pun terlelap dalam mimpinya seraya memeluk foto Rafael dalam dekapannya.
Di sisi lain, Rafael tersenyum melihat Bintang, meski ia tau kini mereka tak hidup satu dunia. Rafael tersenyum dan berkata “jadilah Bintang untuk malam hari yang bersinar menerangi bumi untuk orang lain. Dan jadilah Bintang yang selalu berpijar di hatiku untuk menjaga kisah kita yang akan aku jaga selamanya. I love You too Bintang.”
Bintang sedang terlelap bersama mimpi indahnya, sedangkan Rafael masih setia menjaga Bintang meski selama ini Bintang tak melihat Rafael. Malam yang cerah bertabur bintang di langit seakan menjadi saksi kebahagiaan kisah cinta sepasang kekasih meski berbeda kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar